Mitratel Mengembangkan Sistem Menara Terbang untuk Perluas Jangkauan Sinyal di Wilayah Terpencil Indonesia

Dalam upaya untuk meningkatkan konektivitas di berbagai wilayah terpencil di Indonesia, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (Mitratel) telah memulai pengembangan sistem menara terbang, yang dikenal sebagai flying tower system (FTS). Inisiatif ini bertujuan untuk memperluas cakupan sinyal telekomunikasi, terutama di daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur konvensional.
Pentingnya Sistem Menara Terbang
Anak perusahaan Telkom ini menilai bahwa target komersialisasi High Altitude Platform Station (HAPS) yang direncanakan oleh Airbus pada tahun 2028 adalah waktu yang realistis. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat infrastruktur digital di seluruh negeri, terutama dalam menghadapi tantangan geografis yang kompleks.
Corporate Secretary Mitratel, Hendra Purnama, percaya bahwa teknologi FTS memiliki potensi yang besar. Dia menyatakan bahwa dengan waktu menuju 2028 yang tersedia, ada peluang baik asalkan semua elemen pendukung dalam industri berkembang secara bersamaan.
Teknologi HAPS: Definisi dan Fungsi
Secara teknis, HAPS merupakan wahana yang beroperasi di stratosfer, sekitar 20 kilometer di atas permukaan bumi. Berbeda dengan satelit yang berada di luar angkasa atau menara konvensional yang dipasang di tanah, HAPS berfungsi seperti Base Transceiver Station (BTS) yang melayang di udara, memberikan jangkauan yang lebih luas tanpa terhalang oleh berbagai rintangan topografi.
Kelebihan utama dari HAPS adalah kemampuannya untuk menjangkau area yang luas tanpa terhambat oleh kondisi geografis yang ekstrem, seperti pegunungan atau pulau-pulau terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan kabel serat optik.
Progres dan Tantangan dalam Implementasi
Perkembangan teknologi ini menunjukkan kemajuan yang menggembirakan, terutama dalam fase uji coba teknis dan validasi konektivitas. Namun, Hendra menekankan bahwa pencapaian tahap komersialisasi memerlukan lebih dari sekadar keberhasilan dalam pengujian penerbangan.
Dia menyoroti pentingnya kematangan ekosistem industri, kejelasan regulasi ruang udara, dan model bisnis yang berkelanjutan sebagai faktor krusial dalam mencapai tujuan tersebut.
Timeline dan Pendekatan Mitratel
“Target komersialisasi HAPS pada tahun 2028 adalah timeline yang realistis,” ungkap Hendra. Dia menambahkan bahwa semua aspek pendukung harus berkembang secara harmonis untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagai perusahaan infrastruktur yang besar, Mitratel memilih pendekatan yang lebih konservatif namun tetap terukur. Mereka menerapkan langkah-langkah bertahap melalui pelaksanaan Proof of Concept (PoC), yang memberi kesempatan untuk mengevaluasi kelayakan implementasi secara luas.
Perbandingan dengan Infrastruktur Konvensional
Ketika membandingkan infrastruktur menara konvensional dengan BTS terbang, menara telekomunikasi tradisional memiliki keunggulan dalam hal stabilitas kapasitas data dan kemudahan perawatan fisik, karena lokasinya yang tetap di permukaan tanah. Namun, HAPS menawarkan fleksibilitas luar biasa dalam menjangkau area-area yang tidak terjangkau tanpa memerlukan pembebasan lahan yang rumit, terutama di daerah hutan atau pelosok.
Meskipun menara darat tetap menjadi tulang punggung jaringan di wilayah perkotaan, HAPS dapat berfungsi sebagai solusi pelengkap yang efisien untuk konektivitas di daerah maritim dan wilayah yang tertinggal.
Biaya dan Efisiensi dalam Pengembangan
Walaupun biaya pembangunan satu menara fisik dapat lebih terukur, menjangkau pulau-pulau terluar dengan biaya logistik dan penggelaran kabel bawah laut jauh lebih mahal dibandingkan menerbangkan satu unit BTS ke ketinggian, yang mampu mencakup area seluas satu provinsi.
Hendra menambahkan bahwa hasil dari tahap PoC akan menjadi dasar dalam menentukan langkah ekspansi ke depan. Mitratel tetap optimis terhadap potensi FTS dalam mengatasi tantangan geografis Indonesia yang rumit.
Peluang dan Harapan untuk Masa Depan
“Kami melihat peluang ini secara positif sebagai solusi pelengkap untuk konektivitas. Namun, komersialisasi penuh sangat tergantung pada hasil evaluasi teknis, kesiapan regulasi, dan kesesuaian dengan kebutuhan pasar,” tuturnya.
Dengan pengembangan sistem menara terbang, Mitratel berambisi untuk tidak hanya meningkatkan jangkauan sinyal, tetapi juga mengatasi tantangan yang selama ini menghambat konektivitas di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Dalam upaya ini, kolaborasi antara berbagai pihak dalam industri akan menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan yang diharapkan.




