Hari Kartini: Fakta Sejarah Nasional tentang RA Kartini sebagai Santri Mbah KH Sholeh Darat

Hari Kartini selalu menjadi momentum penting dalam sejarah Indonesia, terutama bagi kaum perempuan. Raden Adjeng Kartini, seorang tokoh yang dikenal sebagai pelopor perjuangan emansipasi wanita, tidak hanya berjuang untuk hak-hak perempuan, tetapi juga memiliki kedekatan yang mendalam dengan ajaran Islam. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi lebih jauh mengenai kehidupan Kartini, termasuk pengaruh yang didapatnya dari Kyai Sholeh Darat, seorang ulama terkemuka yang juga seorang santri.
Latar Belakang Keluarga RA Kartini
Raden Adjeng Kartini lahir dalam keluarga bangsawan Jawa. Ia merupakan anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bupati di Jepara. Kartini adalah putri dari istri pertama, M.A. Ngasirah, yang merupakan keturunan dari guru agama terkenal, Kyai Haji Madirono. Dari sisi ayahnya, silsilahnya dapat ditelusuri hingga Hamengkubuwana VI, yang menandakan status sosialnya yang tinggi.
Setelah menikahi M.A. Ngasirah, Ayah Kartini menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan, yang merupakan keturunan raja Madura. Dengan perkawinan ini, ayahnya diangkat menjadi bupati Jepara, menggantikan posisi mertuanya, R.A.A. Tjitrowikromo.
Pendidikan dan Masa Muda Kartini
RA Kartini adalah anak kelima dari sebelas bersaudara, di mana ia menjadi anak perempuan tertua di antara saudara-saudara kandung dan tiri. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, menjadi bupati pada usia muda, dan kakaknya, Sosrokartono, dikenal sebagai seorang ahli bahasa. Kartini mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di ELS (Europese Lagere School), di mana ia belajar bahasa Belanda hingga usia 12 tahun. Namun, setelah itu, ia harus tinggal di rumah karena aturan adat yang mengharuskannya untuk dipingit.
Surat-surat RA Kartini
Dalam surat-suratnya, RA Kartini mengungkapkan banyak pemikiran mendalam tentang keyakinan dan pandangan hidupnya. Salah satu suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 6 November 1899, menunjukkan keraguan dan keinginan untuk memahami agamanya, Islam. Ia mengekspresikan kebingungan tentang ajaran Islam yang tidak boleh didiskusikan dengan umat lain, serta kerinduannya untuk memahami makna dari ajaran tersebut.
Ia mengkritik ketidakmampuan umatnya untuk memahami Alquran, yang dianggapnya terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Kartini berpendapat bahwa mengajarkan bacaan tanpa makna sama seperti mengajarkan bahasa asing tanpa artinya.
Dalam suratnya yang lain, bertanggal 15 Agustus 1902, Kartini melanjutkan curhatannya mengenai ketidakpuasan dalam belajar agama. Ia menegaskan pentingnya memahami makna dari ajaran yang dipelajarinya dan menantang para pengajarnya untuk menjelaskan arti dari ajaran yang mereka sampaikan.
Bertemu dengan Kyai Sholeh Darat
Pertemuan R.A. Kartini dengan Kyai Sholeh Darat terjadi dalam sebuah acara pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga merupakan pamannya. Saat itu, Kartini menjadi sangat tertarik dengan pengajian yang diadakan oleh Kyai Sholeh Darat, yang sedang menjelaskan tafsir surat Al-Fatihah. Ia terpesona oleh cara Kyai Sholeh menjelaskan makna dari surat yang selama ini tidak dipahami olehnya.
Setelah pengajian, Kartini tidak dapat menahan keinginannya untuk bertemu dengan Kyai Sholeh dan langsung meminta pamannya untuk mengantarnya. Pertanyaan pertama yang dilontarkannya adalah mengenai hukum menyimpan ilmu dari orang lain, sebuah pertanyaan yang menunjukkan kedalaman pemikirannya.
Dialog yang Menggugah
Dalam dialog dengan Kyai Sholeh, Kartini mengungkapkan kekagumannya terhadap makna Al-Fatihah dan bertanya mengapa penerjemahan Alquran dilarang. Kyai Sholeh tidak segera merespons, namun dalam hati, ia merasa tergerak oleh pertanyaan Kartini. Pertanyaan tersebut membuka jalan bagi Kyai Sholeh untuk mempertimbangkan pentingnya menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa.
Dalam pertemuan itu, Kartini meminta agar Alquran diterjemahkan, menegaskan bahwa membaca tanpa memahami maknanya tidak ada gunanya. Meskipun saat itu ada larangan dari penjajah Belanda untuk menerjemahkan kitab suci, Kyai Sholeh berani melanggar larangan tersebut dengan menulis terjemahan dalam huruf Arab gundul (pegon), sehingga tidak dicurigai oleh pihak kolonial.
Kitab Faidhur-Rohman
Kyai Sholeh Darat menulis kitab tafsir dan terjemahan Alquran yang dikenal sebagai Kitab Faidhur-Rohman. Ini adalah tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini menjadi hadiah bagi RA Kartini saat ia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seorang bupati Rembang. Kartini sangat menghargai hadiah tersebut dan menyatakan bahwa Al-Fatihah, yang sebelumnya gelap baginya, kini menjadi terang karena penjelasan dari Kyai Sholeh.
Transformasi Spiritual Kartini
Melalui ajaran Kyai Sholeh, Kartini mengalami transformasi spiritual yang mendalam. Ia menemukan bahwa ajaran Islam tidak hanya tentang ritual, tetapi juga tentang pemahaman yang lebih dalam mengenai makna hidup. Dalam surat-suratnya, Kartini sering mengulang frasa “Dari gelap menuju cahaya” yang diartikan oleh Armijn Pane menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul buku kumpulan suratnya.
Perubahan Pandangan Terhadap Barat
Setelah berinteraksi dengan Kyai Sholeh, pandangan Kartini terhadap dunia Barat juga berubah. Dalam suratnya kepada Ny Abendanon tanggal 27 Oktober 1902, ia mengekspresikan penyesalan karena sebelumnya menganggap masyarakat Eropa sebagai yang terbaik. Ia menyadari bahwa di balik keindahan yang ditampilkan, terdapat banyak aspek yang tidak patut disebut peradaban.
Pembelaan Terhadap Islam
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol pada 21 Juli 1902, Kartini menegaskan komitmennya untuk memperbaiki citra Islam yang sering disalahpahami. Ia bercita-cita agar agamanya dipandang sebagai agama yang damai dan disukai. Kartini menginginkan agar identitasnya sebagai seorang Muslim dapat diterima dan dihargai.
Peran Kyai Sholeh Darat dalam Sejarah Islam
Kyai Sholeh Darat adalah sosok penting dalam penyebaran Islam di Jawa, khususnya di Semarang. Beliau lahir di Desa Kedung Jumbleng, Jepara, sekitar tahun 1820. Selain menjadi guru bagi banyak ulama, Kyai Sholeh juga dikenal sebagai penulis kitab-kitab fikih, teologi, tasawuf, dan ilmu falak dengan gaya pegon. Ia memiliki peran besar dalam pembentukan pemikiran Islam di Nusantara.
Pendidikan dan Karya-karya Kyai Sholeh
Kyai Sholeh memulai pendidikannya di bawah bimbingan ayahnya, KH Umar, yang merupakan ulama terkemuka. Ia kemudian menimba ilmu dari berbagai ulama terkenal dan terus mengembangkan pengetahuannya. Karya-karya beliau, seperti Kitab Faidhur-Rohman dan berbagai kitab lainnya, terus dibaca dan dijadikan rujukan di pesantren-pesantren hingga saat ini.
Beliau meninggal dunia pada 18 Desember 1903 dan dimakamkan di pemakaman umum Bergota, Semarang. Haulnya dirayakan pada 10 Syawal untuk memberi kesempatan kepada masyarakat menghadirinya setelah perayaan Lebaran. Kehadiran ribuan umat dalam acara tersebut menunjukkan besarnya pengaruh dan penghargaan terhadap jasa-jasanya.
Mewarisi Pemikiran Kyai Sholeh
Pengaruh Kyai Sholeh Darat tidak hanya terbatas pada R.A. Kartini, tetapi juga meluas kepada generasi ulama berikutnya. Banyak ulama yang menjadi muridnya, seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, yang mendirikan organisasi Islam besar di Indonesia. Pemikiran terbuka dan pembelaan terhadap ilmu pengetahuan menjadi warisan berharga yang terus hidup dalam tradisi Islam di Nusantara.
Dengan demikian, peringatan Hari Kartini tidak hanya sekadar mengenang perjuangan emansipasi wanita, tetapi juga menegaskan pentingnya pemahaman agama yang mendalam dan kritis. RA Kartini, dengan bimbingan Kyai Sholeh Darat, telah menunjukkan bahwa kesadaran akan hak-hak perempuan dan pemahaman agama dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban yang lebih baik.